Gara - Gara Kue Pia
Malam itu Pakarti bersama
ayahnya melihat puncak perayaan hari jadi kabupaten mereka yang ke 617 dan HUT
RI yang ke 67 di alun – alun. Ia mengenakan kaos putih lengan panjang bertuliskan
“Pakarti, Ki Tanjung Anom Lovers”. Pakarti masih kelas tiga SMP dan ayah
bekerja di sebuah instansi pendidikan tingkat kecamatan di kabupaten itu.
Perayaan malam itu sangat meriah. Digelar pesta kembang api selama satu jam dan diteruskan dengan pagelaran wayang kulit yang ditampilkan oleh Ki Tanjung Anom beserta putranya Ki Pamungkas Aji. Kedua dalang tenar itu sangat digemari Pakarti. Sejak kecil Pakarti senang pada seni budaya daerah. Khususnya pagelaran wayang kulit, kerena sering diajak ayah melihat.
Pakarti dan ayah telah berada di alun – alun kabupaten, ayah mengajak Pakarti masuk ke tempat yang disediakan untuk para undangan. Saat itu kepala instansi tempat ayah Pakarti bekerja tidak bisa datang dan undangan untuk beliau di bawa oleh ayah. Tetapi Pakarti masih ingin membeli kue pia.
“Yah aku lihat di sana ada yang jual pia. Aku mau beli pia yah”, Kata Pakarti
“Iya tapi hati – hati. Dan jangan beli terlalu banyak. Ini uangnya”, Kata Ayah
Pakarti melangkah ke tempat penjual pia. Dari kejauhan dia telah melihat pia – pia itu hampir habis, Pakarti bergegas untuk sampai ke tempat penjual pia, karena ia tak ingin kehabisan.
“Buk saya beli pia sepuluh bungkus”, kata seorang laki - laki yang mengenakan beskap berwarna putih
“Buk Aku juga mau beli pia sepuluh bungkus, mas yang ini nanti aja deh”, Kata Pakarti sambil memberikan uang yang pada penjual
“Hei…!!! Aku dulu. Aku udah nunggu dari tadi, kamu kan datangnya belakangan”, Kata laki – laki itu
“Perempuan dulu mas. Laki – laki yang baik mengalah pada perempuan”, kata Pakarti
“OK. Buk saya setelah adik kecil ini aja”, Kata laki – laki itu
“Tapi pianya tinggal sepuluh bungkus. Mbak lima, mas lima ya”, Kata si penjual
“iya buk ndak apa - apa”, kata laki – laki itu
“Enggak, aku mau semua pia itu buat aku. Mas ini gak usah aja ya. Laki – laki yang baik itu mau mengalah”, kata Pakarti
“Enggak. Kamu dapat lima, aku lima. Udah adil kan?. Ngalah sih ngalah, tapi jangan aku di kalahin terus”, Katanya dengan sedikit emosi
“Pokoknya semua pia itu buat aku, buk ini ambil aja kembalianya. Tapi semua kue ini untuk saya”, Kata Pakarti memaksa
Akhirnya Pakarti mendapatkan semua kue pia itu dan pergi meninggalkan laki – laki dengan pakaian pengrawit berwarna putih. Sebenarnya laki – laki itu adalah Aryo Cahyadi pengendang kebanggan Ki Tanjung Anom dan Ki Pamungkas Aji. Tapi Pakarti tidak tahu
“Aryo… koq lama banget beli pia nya. Udah ditunggu teman – teman tuh. Sekarang pianya mana?”, kata Aji datang menghampiri Aryo yang masih berdiri di tempat ia bertikai dengan Pakarti
“Ini gara – gara anak kecil nyebelin, yang buat aku lama disini. Dan gak dapat pia”, Kata Aryo
“Ya udah, maklum anak – anak. Gak usah terlalu di fikirkan lah. Kamu yang lebih dewasa jangan emosi”, Kata Aji dengan bijak
“Iya Ji, kamu benar. Tapi gak terlalu kecil juga sih, anak remaja perempuan. Rumayan cantik orangnya.”, Kata Aryo
“Remaja kan lagi masa labil. Masa peralihan, kadang ngelakuin hal – hal yang aneh”, Kata Aji
“Iya kawanku… Bijaknya mahasiswa fakultas Sosial di UNS ini. Ow ya anak itu pakai baju Ki Tanjung Anom Lovers”, Kata Aryo
“Kalau ketemu lagi, kasih aja dia kejutan. Nanti aku kasih tahu kejutannya apa. Ok kawanku”, Kata Aji
Perayaan malam itu sangat meriah. Digelar pesta kembang api selama satu jam dan diteruskan dengan pagelaran wayang kulit yang ditampilkan oleh Ki Tanjung Anom beserta putranya Ki Pamungkas Aji. Kedua dalang tenar itu sangat digemari Pakarti. Sejak kecil Pakarti senang pada seni budaya daerah. Khususnya pagelaran wayang kulit, kerena sering diajak ayah melihat.
Pakarti dan ayah telah berada di alun – alun kabupaten, ayah mengajak Pakarti masuk ke tempat yang disediakan untuk para undangan. Saat itu kepala instansi tempat ayah Pakarti bekerja tidak bisa datang dan undangan untuk beliau di bawa oleh ayah. Tetapi Pakarti masih ingin membeli kue pia.
“Yah aku lihat di sana ada yang jual pia. Aku mau beli pia yah”, Kata Pakarti
“Iya tapi hati – hati. Dan jangan beli terlalu banyak. Ini uangnya”, Kata Ayah
Pakarti melangkah ke tempat penjual pia. Dari kejauhan dia telah melihat pia – pia itu hampir habis, Pakarti bergegas untuk sampai ke tempat penjual pia, karena ia tak ingin kehabisan.
“Buk saya beli pia sepuluh bungkus”, kata seorang laki - laki yang mengenakan beskap berwarna putih
“Buk Aku juga mau beli pia sepuluh bungkus, mas yang ini nanti aja deh”, Kata Pakarti sambil memberikan uang yang pada penjual
“Hei…!!! Aku dulu. Aku udah nunggu dari tadi, kamu kan datangnya belakangan”, Kata laki – laki itu
“Perempuan dulu mas. Laki – laki yang baik mengalah pada perempuan”, kata Pakarti
“OK. Buk saya setelah adik kecil ini aja”, Kata laki – laki itu
“Tapi pianya tinggal sepuluh bungkus. Mbak lima, mas lima ya”, Kata si penjual
“iya buk ndak apa - apa”, kata laki – laki itu
“Enggak, aku mau semua pia itu buat aku. Mas ini gak usah aja ya. Laki – laki yang baik itu mau mengalah”, kata Pakarti
“Enggak. Kamu dapat lima, aku lima. Udah adil kan?. Ngalah sih ngalah, tapi jangan aku di kalahin terus”, Katanya dengan sedikit emosi
“Pokoknya semua pia itu buat aku, buk ini ambil aja kembalianya. Tapi semua kue ini untuk saya”, Kata Pakarti memaksa
Akhirnya Pakarti mendapatkan semua kue pia itu dan pergi meninggalkan laki – laki dengan pakaian pengrawit berwarna putih. Sebenarnya laki – laki itu adalah Aryo Cahyadi pengendang kebanggan Ki Tanjung Anom dan Ki Pamungkas Aji. Tapi Pakarti tidak tahu
“Aryo… koq lama banget beli pia nya. Udah ditunggu teman – teman tuh. Sekarang pianya mana?”, kata Aji datang menghampiri Aryo yang masih berdiri di tempat ia bertikai dengan Pakarti
“Ini gara – gara anak kecil nyebelin, yang buat aku lama disini. Dan gak dapat pia”, Kata Aryo
“Ya udah, maklum anak – anak. Gak usah terlalu di fikirkan lah. Kamu yang lebih dewasa jangan emosi”, Kata Aji dengan bijak
“Iya Ji, kamu benar. Tapi gak terlalu kecil juga sih, anak remaja perempuan. Rumayan cantik orangnya.”, Kata Aryo
“Remaja kan lagi masa labil. Masa peralihan, kadang ngelakuin hal – hal yang aneh”, Kata Aji
“Iya kawanku… Bijaknya mahasiswa fakultas Sosial di UNS ini. Ow ya anak itu pakai baju Ki Tanjung Anom Lovers”, Kata Aryo
“Kalau ketemu lagi, kasih aja dia kejutan. Nanti aku kasih tahu kejutannya apa. Ok kawanku”, Kata Aji
*****
Saat
Pakarti kembali menemui ayahnya, di jalan ia melihat sebuah balon gas yang
berbentuk tokoh kartun Winnie The Pooh. Pakarti sangat menyukai tokoh Katun
tersebut. Tanpa pikir panjang Pakarti langsung membelinya. Dan bergeges kembali
pada ayahnya.
“Sebentar yah, jangan marah dulu. Pasti mau marah kan? Iya kan? Pasti iya. Tadi aku rebutan kue pia sama seseorang. Tapi tetap, aku yang dapat. Ini dia, sepuluh bungkus kue pia plus si unyu Winnie The Pooh”, Kata Pakarti
“Siapa suruh beli sepuluh bungkas. Udah di bilang jangan beli terlalu banyak. Trus ngapain beli balon gas? kamar kamu kan udah penuh dengan Winnie The Pooh. Ayah nunggu disini lama banget”, Kata Ayah Pakarti dengan nada keras
“ Ya Sorry boss. Smile…. Damai ya ok ok ok”, kata Pakarti
“Kalau di marahi selalu gitu. Mana kembaliannya.”, Kata ayah Pakarti
” Eeee….. Aku kasih ke penjual pia semua. Gak papa ya yah. Anggap aja ngamal sama orang, nanti kalau ayah ihklas rezeki ayah tambah banyak loh”, Kata Pakarti agar ia tak dimarahi Ayahnya
“Ya Udah gak papa. Tapi selama satu minggu uang saku kamu ayah kurangi, karena kamu tidak perhitungan dalam membelanjakan uang”, Kata Ayah Pakarti
“Capek deh…”, Kata Pakarti dalam hati. Ia tak menjawab
“Sebentar yah, jangan marah dulu. Pasti mau marah kan? Iya kan? Pasti iya. Tadi aku rebutan kue pia sama seseorang. Tapi tetap, aku yang dapat. Ini dia, sepuluh bungkus kue pia plus si unyu Winnie The Pooh”, Kata Pakarti
“Siapa suruh beli sepuluh bungkas. Udah di bilang jangan beli terlalu banyak. Trus ngapain beli balon gas? kamar kamu kan udah penuh dengan Winnie The Pooh. Ayah nunggu disini lama banget”, Kata Ayah Pakarti dengan nada keras
“ Ya Sorry boss. Smile…. Damai ya ok ok ok”, kata Pakarti
“Kalau di marahi selalu gitu. Mana kembaliannya.”, Kata ayah Pakarti
” Eeee….. Aku kasih ke penjual pia semua. Gak papa ya yah. Anggap aja ngamal sama orang, nanti kalau ayah ihklas rezeki ayah tambah banyak loh”, Kata Pakarti agar ia tak dimarahi Ayahnya
“Ya Udah gak papa. Tapi selama satu minggu uang saku kamu ayah kurangi, karena kamu tidak perhitungan dalam membelanjakan uang”, Kata Ayah Pakarti
“Capek deh…”, Kata Pakarti dalam hati. Ia tak menjawab
Pakarti
dan Ayahnya masuk ke tempat yang telah di sediakan dan duduk. Tak lama kemudian
terdengar suara “ Marilah kita sambut kehadiran bapak Bupati dan ibu, seluruh
jajaran pemerintahan kabupaten, Ki Tanjung Anom beserta Ki Pamungkas Aji yang
sebagaimana telah kita ketahui bahwa meraka adalah tokoh seni yang sangat
memukau. Dan tak lupa, kami sampaikan selamat datang kepada grup karawitan
Setyo Laras ”.
Pakarti segera berdiri dan mengarahkan pandangannya pada orang yang ia nanti – nanti, Ki Tanjung Anom dan Ki Pamungkas Aji. Saat itu Pakarti melihat laki – laki yang tadi bertengkar dengannya berjalan di samping dan tampak sangat akrab dengan Ki Pamungkas Aji idolanya. Dalam hatinya terlintas fikiran, “Apakah dia mas Aryo?”. Laki – laki itu menoleh ke Pakarti, menjatuhkan selembar kertas di dekat Pakarti dan terseyum. Pakarti mengambil dan membukanya. Ia sangat terkejut, di kertas itu tertulis “Aryo Cahyadi sekarang guru di Art School. Mau sekolah disana??? 087835547387”
“Oh My God, mas Aryo ngajar di Art School??? Gimana ya nanti kalau aku jadi muritnya??? Aduh jadi bingung. Tahu ah gelap, aku pikir kapan – kapan aja deh. Semua ini gara – gara kue pia”, Katanya dalam, hati
Pakarti segera berdiri dan mengarahkan pandangannya pada orang yang ia nanti – nanti, Ki Tanjung Anom dan Ki Pamungkas Aji. Saat itu Pakarti melihat laki – laki yang tadi bertengkar dengannya berjalan di samping dan tampak sangat akrab dengan Ki Pamungkas Aji idolanya. Dalam hatinya terlintas fikiran, “Apakah dia mas Aryo?”. Laki – laki itu menoleh ke Pakarti, menjatuhkan selembar kertas di dekat Pakarti dan terseyum. Pakarti mengambil dan membukanya. Ia sangat terkejut, di kertas itu tertulis “Aryo Cahyadi sekarang guru di Art School. Mau sekolah disana??? 087835547387”
“Oh My God, mas Aryo ngajar di Art School??? Gimana ya nanti kalau aku jadi muritnya??? Aduh jadi bingung. Tahu ah gelap, aku pikir kapan – kapan aja deh. Semua ini gara – gara kue pia”, Katanya dalam, hati
Akhir Bagian 1
Komentar
Posting Komentar