Hidup Ke - 2 Untuknya
Upacara
bendera berjalan dengan tertib dan hikmat, seluruh siswa tertata rapi sesuai
dengan kelasnya. Mereka memberikan penghormatan dengan sangat tulus kepada Sang
Merah Putih. Usai pengibaran bendera, seorang gadis keluar dari barisan dan
berjalan ke tengah lapangan setelah namanya disebut. Gadis berambut panjang itu
berjalan dengan senyuman dan perasaan bangga. Kepala sekolah turun dari mimbar
untuk memasangkan sebuah lencana di dadanya, Simbol ucapan selamat dan
perhargaan untuk hasil yang telah ia raih dalam Olympiade Sains Nasional.
Tiba – tiba tamu tak di undang datang dengan membawa sebuah pistol, dan di arahkan ke hadapan kepala sekolah. Seseorang yang tak asing bagi kepala sekolah dan beberapa guru di sekolah itu. Seorang gadis yang telah mengukir sebuah cerita tiga tahun lalu. Kini sosoknya tak dapat dengan mudah terlupakan dari benak beliau – beliau. Gadis itu menatap kepala sekolah dengan tatapan tajam dan penuh dendam. Dendam yang muncul karena sebuah luka pedih dalam hati, yang telah berubah menjadi kebencian.
Tiba – tiba tamu tak di undang datang dengan membawa sebuah pistol, dan di arahkan ke hadapan kepala sekolah. Seseorang yang tak asing bagi kepala sekolah dan beberapa guru di sekolah itu. Seorang gadis yang telah mengukir sebuah cerita tiga tahun lalu. Kini sosoknya tak dapat dengan mudah terlupakan dari benak beliau – beliau. Gadis itu menatap kepala sekolah dengan tatapan tajam dan penuh dendam. Dendam yang muncul karena sebuah luka pedih dalam hati, yang telah berubah menjadi kebencian.
“ Amelya Putri
Paramita, saya masih ingat kamu. Seorang murid yang berani masuk ke ruang arsip
dan mencuri soal ujian sekolah ”, Kata Dr. Prasetyo
“ Begitu pula dengan saya Pak, saya juga masih ingat Bapak. Seorang kepala sekolah, yang sangat tega dan tidak punya hati. Mengeluarkan siswanya yang sudah kelas tiga SMA dan hampir lulus ”
“ Siapapun dia, jika salah harus tetap di hukum ”
“ Tapi Bapak terlalu tega kepada saya. Karena Bapak, saya kehilangan semua harapan dan impian. Jika saat itu Bapak tidak mengeluarkan saya, mungkin saat ini saya sedang duduk di bangku pergururan tinggi yang saya idam - idamkan ”
“ Itu semua adalah buah dari kesalahan kamu sendiri. Jika saja kamu tidak melakukan kesalahan itu, tentu saya tidak akan mengeluarkan kamu ”
“ Itu hanya perkara sepele Pak, lagi pula tidak merugikan banyak orang ”
“ Bagi saya itu bukan perkara yang sepele, dan itu merugikan teman - taman kamu yang lain. Apakah adil, jika nilai yang meraka dapatkan dengan jujur tidak lebih baik dengan kamu yang sudah berbuat curang ”
“ Saya melakukan itu, karena saya ingin mendapakan hasil yang sempurna. Belum tentu juga, mereka benar - benar jujur. Bukankan Bapak tahu, jika tidak ada seorang pun yang tidak pernah melakukan kesalahan, Bapak jangan sok suci. ”
“ Ya, kamu memang benar. Namun ketidak jujuran adalah sebuah penyakit yang harus di musnahkan. Hukum yang saya berikan pada kamu cukup menjadi pelajaran bagi teman - teman kamu, agar mereka tidak berani untuk curang dalam hal apapun. Amel, kamu bukan murid yang bodoh. Sayangnya terlalu ambisius, sifat itu yang telah menghancurkanmu. Karena kamu jadi menghalalkan segala cara ”
“ Oh,,, jadi Bapak menjadikan saya sebagai tumbal !!! Bapak benar - benar kejam, kasalahan itu hanya saya lakukan sekali. Harusnya Bapak menberi saya kesempata. Saya tahu Pan menjadi orang yang idealis itu baik, namun terkadang kita perlu mengalahkan idealisme kita demi menolong orang. Sekarang, sampai berjumpa di alam yang berbeda, suatu saat nanti Dr. Prasetyo yang terhormat ”
Amel, melepaskan tembakan ke Dr. Prasetyo. Belum sampai peluru itu mengenai tubuh
beliau, gadis yang berdiri di sampinya menghadang peluru yang sedang meluncur.
Sehingga ia terluka parah dan terjatuh. Melihat itu, Amel segera kabur dengan
mobil jeep miliknya. Sedangkan ia yang sedang terluka
kini berada di dekapan DR Prasetyo, melihat itu semua peserta upacara merasakan
kesedihan yang mendalam, dan beberapa dari mereka membalikkan muka karena tak
tega melihat hal yang dialami temannya. Gadis itu tak sepenuhnya kehilangan kesadaran,
meskipun lukanya penuh darah. Ia menatap DR Prasetyo, dengan pandangan yang
sayu dan lemah.
“ Bapak seorang
pemimpin sekolah yang baik. Mungkin sekolah ini akan lumpuh jika tak ada bapak,
jadi lebih baik sekolah ini kehilangan saya dari pada harus kehilangan bapak ”
“ Tidak nak, sekolah ini juga membutuhkan kamu. Kamu tak boleh bicara seperti itu. Segala sesuatu akan berarti jika komponen penyusunnya lengkap ”
“ Tetap saja, Bapak jauh lebih berharga. Jika setelah ini, saya tak dapat membuka mata saya lagi, tolong sampaikan perasaan sayang saya kepada orang – orang terdekat saya dan semua yang ada di sekolah ini ”, Ucapnya lirih
Beberapa
detik kemudian, ia menutup matanya. Tanggan kirinya memegang lencana yang
terpasang di dada kanan. Dr. Prasetyo tetap mendekap gadis penyelamatnya, sambil
menetaskan air mata. Beliau bahagia, karena pernah mengenal seorang gadis yang saat baik dan pemberani, namun ada pula rasa sedih yang teramat dalam pada dirinya. Dua rasa itu berpadu menjadi satu dan membuat suasana haru menyelimuti lapangan
upacara pada pagi yang cerah. Tak ada satu pun yang berani mengusik mereka
Hingga
akhirnya mobil ambulance datang untuk membawa gadis itu ke rumah sakit. Semua bersyukur, gadis itu masih bersama mereka. Meskipun keadaanya
kritis dan harus dirawat di ruang ICU. Kedua orang tuanya di panggil, Dr, Prasetyo
dan para guru tak beranjak dari tempatnya, sebelum mereka. Setelah mereka datang, Dr Prasetyo segera menceritakan
semua yang telah terjadi, beliau juga mengucapkan permintaan maafnya yang
sedalam – dalamnya kepada orang tua gadis itu. Permintaan maaf yang benar –
benar dari hati. Begitu pula dengan guru yang ada disana.
*****
Hari –
hari berganti, namun gadis itu tak juga sadar dari komanya. Itu menambah perasaan
bersalah Dr. Prasetyo. Di ruangnya beliau tampak murung, duduk terdiam di
kursinya sambil bertopang dagu. Pandanganya kosong, pikirnya tertuju pada gadis
yang telah menyelamatkan nyawanya. Lamunanya buyar setelah terdengar ketukan
pintu dari seseorang. Beliau mempersilahkannya masuk, dan ia memberitahu bahwa, ada anak perempuan berseragam SMA yang ingin bertemu
dengan beliau. Dr. Prasetyo bersedia bertemu dengannya. Gadis itu masuk dan duduk di hadapan beliau.
“ Saya
Kamel, sahabat Wibi ”, Kata Kamel sambil mengulurkan tangannya. Dr. Prasetyo pun
menjabat tangan Kamel. “ Saya dengar ia sedang sakit. Saya ingin mendengar
cerita, langsung dari Bapak. ” lanjutnya. Lalu beliau mulai bercerita, dengan
seksama Kamel mendengarkan cerita yang menyangkut sahabatnya. Matanya berkaca –
kaca, dadanya sesak dan hatinya bagai di disayat dengan seribu pisau setelah
mendengar cerita itu. Akhirnya air matanya menetes. Kamel pun meminta Dr.
Prasetyo mengantarnya ke rumah sakit.
Sampai di
rumah sakit, Dr. Prasetyo segera menunjukkan kamar Wibi dirawat. Di depan kamar
itu, ibu Wibi sedang duduk
“ Bi, ini gue Kamel.
Loe kok diem aja sih? Mana senyum loe? Senyum dong. Loe nggak asik deh Bi, gue udah
di sini loe Cuma diem, nggak mau cerita – cerita kayak biasanya. Loe nggak usah
acting deh, acting loe itu jelek. Ayo Bi buka mata loe, trus kita keluar beli es krim.
Gue yang traktir deh ”, Kamel memegang tangan Wibi dengan tangan bergetar dan
air mata yang jatuh bercucuran. “ Tan, Wibi suruh
bangun donk ”, Kata Kamel sambil memegang bahu ibu Wibi
“ Mel, Wibi sedang sakit. Biarkan dia tidur dulu, dia butuh istirahat. Kalau Wibi sudah sembuh, pasti dia akan main - main sama kamu lagi. Jadi doakan Wibi agar cepat sembuh ya sayang ”, Jawab Nyonya Adin dengan lirih
“ Enggak Tan, Wibi itu nggak pernah sakit. Dia selalu sehat, dia anak yang kuat. Aku kenal banget sama dia. Itu anak kan suka bohong, pasti dia lagi puru – pura. Bi bangun dong, masak temen loe datang, loe cuekin aja. Bangun Bi, bangun !!! ” Tangis Kamel semakin kencang
“ Mel, Tante tahu kamu sedih, tapi kamu harus terima kenyataan ini. Tolong besikap lah lebih dewasa, kamu kan sudah SMA, sebentar lagi mau kuliah. Jangan nangis terus, lebih baik doakan dia. Tante juga sedih lho Mel, dan mungkin kesedihan Tante jauh lebih besar dari kamu, karena Wibi itu anak Tante ”
Cukup
lama Kamel menjenguk Wibi. Selama di ruang itu, tak henti – hentinya ia
menagis. Ibu Wibi tepat berusaha menenagkan gadis yang sudah dianggapnya anak
sendiri. Setelah
melepas kerinduan dengan sahabat yang tak dapat diajaknya bercengkrama, Kamel
pamit untuk pulang. Meski Wibi tak bisa lihat kehadirannya, Kamel yakin jiwanya
dapat merasakan. Sebelum pergi, Kamel menuliskan sepucuk surat untuk Wibi.
Surat yang mewakili hatinya.
“ Dear Wibi. Kamu adalah berlian dalam
hidupku, batu indah yang tak mudah pecah dan sangat berharga. Walau tak
sempurna, bagiku persahabatan kita istemewa. Dan takkan tergantikan sepanjang
masa. Aku tak pernah ingin kamu sakit, jadi cepat sembuh ya kawan.” Setelah
meletakkan surat itu di meja, Kamel keluar dan ia duduk samping Dr. Prasetyo
yang sedari tadi sudah menunggunya. Sebelum pergi mereka sedikit berbincang –
bincang.
“ Sahabat kamu adalah
malaikat kecil saya. Ia adalah pahlawan tanpa gelar yang telah Tuhan kirimkan
untuk saya. Saya tidak pernah menyangka, jika ia seberani itu ”
“ Wibi memang gadis yang sangat pemberani, tapi seharusnya dia bukan malaikat kecil atau pun pahlawan Bapak, dia sahabat saya. Sahabat yang sangat saya sayangi. Gara - gara Bapak sahabat saya celaka dan saat ini dia sedang berjuang antara hidup dan matinya ”
“ Kamel, saya juga tidak ingin Wibi celaka. Dia sendiri yang menolong saya, tanpa saya minta ”
“ Tentu saja dia menolong bapak, tanpa bapak minta !!! Wibi itu laksana lilin yang dinyalakan. Ia rela leleh dan hancur demi orang – orang yang ada disekitarnya. Harusnya Bapak tahu itu.”
“ Ya saya tahu lah itu, Wibi memang gadis yang berhati mulia. Saya juga prihating dengan keadaan Wibi, dan saya juga sayang dengan dia. Lalu salah saya apa ??? ”
“ Seandainya Bapak tidak mengeluarkan gadis itu, kejadian tadi pagi itu tidak akan terjadi. Dan sahabat yang sangat saya sayangi tidak akan berada di dalam sana. Apa sekarang bapak sudah mengerti kesalahan Bapak ??? ”
“ Ya, sepertinya kamu benar. Maafkan saya karena membuat sahabat kamu celaka Kamel, saya menyesal ”
“ Permohonan maaf dan penyesalan Bapak tidak ada gunanya. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan pada Bapak, jika saya kehilangan Wibi. Tapi dapat saya pastikan jika hidup Bapak tidak akan tenang, selamanya. Permisi Pak ”, Pergi meninggalkan Dr. Prasetyo.
“ Wibi memang gadis yang sangat pemberani, tapi seharusnya dia bukan malaikat kecil atau pun pahlawan Bapak, dia sahabat saya. Sahabat yang sangat saya sayangi. Gara - gara Bapak sahabat saya celaka dan saat ini dia sedang berjuang antara hidup dan matinya ”
“ Kamel, saya juga tidak ingin Wibi celaka. Dia sendiri yang menolong saya, tanpa saya minta ”
“ Tentu saja dia menolong bapak, tanpa bapak minta !!! Wibi itu laksana lilin yang dinyalakan. Ia rela leleh dan hancur demi orang – orang yang ada disekitarnya. Harusnya Bapak tahu itu.”
“ Ya saya tahu lah itu, Wibi memang gadis yang berhati mulia. Saya juga prihating dengan keadaan Wibi, dan saya juga sayang dengan dia. Lalu salah saya apa ??? ”
“ Seandainya Bapak tidak mengeluarkan gadis itu, kejadian tadi pagi itu tidak akan terjadi. Dan sahabat yang sangat saya sayangi tidak akan berada di dalam sana. Apa sekarang bapak sudah mengerti kesalahan Bapak ??? ”
“ Ya, sepertinya kamu benar. Maafkan saya karena membuat sahabat kamu celaka Kamel, saya menyesal ”
“ Permohonan maaf dan penyesalan Bapak tidak ada gunanya. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan pada Bapak, jika saya kehilangan Wibi. Tapi dapat saya pastikan jika hidup Bapak tidak akan tenang, selamanya. Permisi Pak ”, Pergi meninggalkan Dr. Prasetyo.
“ Besok lusa akan di sekolah saya adakan doa bersama, memohon kesembuhan untuk Wibi. Jika kamu tidak seberatan tolang datang ”, Triak Dr. Prasetyo
“Baiklah,,, saya akan datang ”, Jawab Kamel
*****
Pagi
itu, siswa – siswa berkumpul di lapangan tengah. Semua siswa putri mengenakan
jilbab. Setelah waktunya tiba, asma – asma Alloh SWT di kumandhangkan. Lalu doa
bersama dimulai. Pak Abu, guru agama di sekolah itu memimpin doa. Ucapan –
ucapan beliau mampu membuat hati siswa – siswa bergetar, dan untuk Wibi mereka
berdoa dengan sangat tulus. Tak sedikit dari mereka yang meneteskan
air mata. Mereka merasa trenyuh dengan perbuatan yang telah dilakukan Wibi.
Tindakan yang tak semua orang berani lakukan. Kurang lebih 30 menit doa bersama
berlangsung. Setelah itu, siswa – siswa kembali ke kelas.
Beberapa
saat kemudian Dr. Prasetyo mendapat telpon dari rumah sakit, kabar gembira
diperoleh dari telpon itu. Wibi telah sadar dari komanya. Keajaiban dari Alloh
SWT telah terjadi. Padahal beberapa menit sebelum kondisi Wibi mengalami puncak
masa kritisnya. Kamel yang masih ada di sekolah itu merasa sangat senang,
mendengar berita itu. Ia, Dr. Prasetyo dan beberapa guru datang ke rumah sakit.
Wibi sudah dipindah di kamar inap biasa, ayah dan ibu menemani di sana. Raut
wajat Wibi, terlihat segar. Sama sekali tak telihat sedang sakit.
“ Kamel, loe masih
tetap puitis aja ya. Gue udah baca surat loe. Bagus ”
“ Gue nggak puitis bego, surat itu mewakili perasaanku. Perasaan sayang gue untuk loe. Karena loe sahabat gue yang nggak ada duanya. Manusia limited edition ”
“ Oh gitu ya ??? Ok fine, aku terima itu ”
“ Pak Prasetyo, tolong anda selalu jaga diri anda. Ada orang banyak yang bersandar di bahu anda. Ada harus tetap sehat. Tidak boleh sakit ”
“ Iya, saya akan selalu jadi diri saya. Tapi kamu juga harus janji, kamu tidak boleh melakukan kebodohan seperti yang lalu. Itu membahayakan diri kamu ”
“ Oh, waktu itu saya cuma pengen nyoba sensasi tembakan aja koq pak. Biar keren seperti di flim – flim ”
“ Kumat deh anehnya. Kebanyakan lihat flim sih ”, Kata Kamel
“ Mending, dari pada kebanyakan modus sama mas – mas. Dengan alasan buat inspirasi nulis cerpen. Kayak penulis hebat aja. Padahan cerpennya juga nggak pernah di muat, apa lagi novel ”, Wibi menyindir
“ Loe nyebelin banget ya Bi ”
“ Emang dari dulu, kemana aja loe ”
“ Mencari bintang ispirasi yang sejati ”
“ Wah… Kamel, kata – katamu tadi sangat, LEBAY ”
“ Udah – udah. Kalau nggak ketemu saling kangen. Kalau ketemu kayak Tom and Jerry ”, Ayah Wibi menengahi.
Ketika
Wibi dan orang – orang di dekatnya sedang asik bercengkrama, Dr. Prasetyo
mendapatkan telpon dari kepolisian, Amel telah berhasil di tangkap. Rasa
gembira dan bersyukur mereka bertambah. Tentunya lah itu tak akan terjadi tanpa
campur tangan Alloh SWT, Tuhan semesta alam yang maha kuasa. Doa yang telah
orang – orang panjatkan untuk kesembuhan Wibi, telah Alloh SWT kabulkan. Alloh
SWT memang maha pengasih lagi maha penyayang.
Beberapa hari kemudian Wibi pergi sekolah dengan sesuatu yang berdeda dari pada biasanya. Baju, tas, dan sepatunya memang tetap sama tapi ada tambahan jilbab di kepalanya. Teman – teman Wibi langsung menghampirinya, saat tahu ia datang. Mereka memeluk Wibi, mereka juga tak ingin kehilangan Wibi. Dengan jilbab yang dipakainya, Wibi terlihat lebih bahagia. Ia merasa ada yang melindunginya, sesuatu yang gaib dan kasat mata.
Beberapa hari kemudian Wibi pergi sekolah dengan sesuatu yang berdeda dari pada biasanya. Baju, tas, dan sepatunya memang tetap sama tapi ada tambahan jilbab di kepalanya. Teman – teman Wibi langsung menghampirinya, saat tahu ia datang. Mereka memeluk Wibi, mereka juga tak ingin kehilangan Wibi. Dengan jilbab yang dipakainya, Wibi terlihat lebih bahagia. Ia merasa ada yang melindunginya, sesuatu yang gaib dan kasat mata.
“ Setelah hidup yang
kedua ini, aku ingin menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya teman –
teman. Ku ingin menjadi seorang muslimah yang benar – benar muslimah ”
Komentar
Posting Komentar