MOS di SMA Baru
Laras dan beberapa teman sekolahnya, berhasil
masuk di sebuah SMA yang paling favorit di kota itu. Dan ia kembali bertemu
dengan seorang yang kala SMP sangat ia gemari. Merah di pipi dan berdegup
kencang jantungnya, setiap bertemu dengan kak Permadi. Di hari pertama MOS, kak
Wisnu meminta seluruh adik barunya memberikan sebuah hadiah untuk satu orang
pengurus OSIS pada saat hari ketiga MOS. Tentu saja Laras memberikan hadiah
untuk kan Permadi.
Sepulang sekolah Laras mencari hadiah di sebuah
toko, ia tampak bingung. Ketika melihat kumpulan tasbih yang bergantungan
dinding, ia tertarik dan mendekat ke tempat itu. Laras pun mengambil satu
tasbih berwarna coklat, dan segera mengambil kertas pembungkus yang telah
dilihatnya sedari tadi. Lalu membawa keduannya ke meja kasir.
Sampai di rumah Laras
membungkus tasbih itu dengan kertas bercorak batik, sebuah corang yang sangat ia suka. Tak lupa ia menyisipkan
selembar kertas putih dengan goresan tinta hitam dari pena yang ia
pegang.
Semoga kau suka dan
mau menerima pemberian dariku. Besar harapanku, untuk kau kenakan di setiap
dzikirmu. Walaupun kau tak suka, tolong simpah hanya untukmu. Jadi, terimalah
kak.
Ttd
Seorang yang takkan lupa dengan MOS
3 Thn yang lalu
*****
Hari
kedua MOS. Seperti sebelumnya, kelompok Olympiad di isi oleh tiga orang
pengurus OSIS. Hanya saja orangnya berbeda, jadi mereka kembali saling
memperkanalkan diri. Tiba saat untuk Laras memperkenalkan dirinya.
“
Nama sama Dyah Larasati, dari SMP Simbat ”
“
Oh, dulu adik kelasnya Permadi ya ”, Kata kakak pengurus OSIS
“
Iya kak ”
“
Dengar – dengar kamu suka sama dia ya ? ”
“
Enggak kak ”
“
Alah,,, nggak usah bohong, kita ingat saat Big Olympiad tempo itu ”
****************************************************************
Flashback…
“
Kak Pop Mie nya satu ya ”, kata Laras pada seorang penjaga stand makan
“
Kamu… Kamu, nggapain kesini ? ”, kata
Permadi
“
Ya ikut olimpiade donk kak ”
“
Sebenarnya Laras itu mau modus sama kakak lho ”, Kata Luvia
“
Modus nggak papa koq, yang penting beli. Kalau nggak beli, nggak bisa modus ”
Laras
berusaha semaksimal mungkin agar bisa terus dekat dengan kak Permadi. Dan Kak
Permadi tak menyangka jika kata – katanya tadi sangat pempengaruhi Laras.
Berkali – kali ia datang ke stand yang di jaga kak Permadi, dengan berbagia
cara dan alasan yang ia buat.
“
Mau ngelanjutin kuliah ke mana kak? ”, Tanya Laras pada kak Permadi yang sedang melayani pesanannya
“
ITS ”
“
Kenapa nggak di STIE aja? ”
“
Ya, terserah aku donk. Kenapa kamu nggak di Art School Surabaya? ”
“
Pengennya di sini ”
“
Udah kamu di sana aja, lebih pas ”
“
Ya, terserah aku donk ”
****************************************************************
Laras
hanya terdiam, saat riuh suara meralun di ruang itu. Ia telah kehabisan kata – kata dan tak bisa
mengelak lagi. Karena memang benar yang dikatakan kakak pengurus OSIS itu. Dan
realitas telah membuktikan, walaupun hanya tersirat. Suasana itu berlalu
setelah lonceng berbunyi, pertanda waktu istirahat telah tiba. Sebagian siswa
tetap di kelas dan sebagian keluar.
Setelah
kurang lebih istirahat 20 menit, saatnya kembali ke kelas dengan agenda
perkenalan seluruh anggota penggurus OSIS. Temanku Lasar sangat menanti – nanti
kedatangan kak Permadi, namun yang ia tunggu tak kunjung datang. Laras sedih dan
kecewa, karena wajahnya tampak murung dan tidak bersemangat. Sama seperti,
ketika hari pertama tahun ajaran baru dua tahun lalu. Saat ia tak menumukan kak
Permadi di sekolahnya.
“
Adik – adik. Ketua 1 Badan Pengurus Inti OSIS, hari ini tidak bisa hadir karena
sedang ada urusan. Namanya Permadi ”, Kata Kak Wisnu
“
Hahh,,, kak Permadi ??? ”, Kata Laras secara spontan.
“
Iya dik, menangnya ada apa ??? Dan kenapa ??? ”
“
Nggak ada apa – apa koq kak ”
“
Dia ngefans kak,,,, ”, Teriak teman – teman
“
Iya kak dia, ngefans kak ”
“
Oh,,, kamu Laras dari SMP Simbat ya ??? ”
“
Iya kak ”
“
Nggak perlu bohong dik. Udah banyak yang tahu kalau kamu suka sama Permadi ”
*****
Keesokannya
adalah hari terakhir MOS. Ada games di kelas Olympiad, yang kalah harus di hukum
dan Laras kalah. Ia disuruh masuk ke kelas yang di jaga oleh Kak Permadi. Sebenarnya temanku yang satu ini sangat ingin masuk dan bertemu Kak Permadi. Kakak – kakak OSIS pun memaksanya masuk, namun ia tetap tidak mau.
Setelah seluruh rangkaian acara MOS
di gelar, saatnya penutupan. Upacara penutupan dilakaksanakan di dalam Aula,
setelah selesai penutupan para peserta MOS bersalam – salaman dengan Kakak –
kakak pengurus OSIS.
“
Dik, mampir UKS ya ”, Kata kak Wisnu pada Laras
“
Jangaan lupa lho ”, Kata Kakak yang lain
“
Kalau mampir di jamin nggak menyesal ”
“
Ada si dia ”
Laras
pergi ku UKS dan menyapa seseorang yang ada di sana.
“ Selamat siang kak Permadi ”
“ Kamu !!!!! ”, Jengkel pada Laras
“ Aku mau salaman ”, Mengulurkan
tangannya
“
Aku nggak mau ”
“
Ayolah kak ” Laras meminta dengan sangat
“
Kasihan dia Di, seberapa susahnya sih salaman ”, Kata seseorang
“
Baiklah ”, Sambil menjabat tangan Laras
“
Ciheeee,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, ”, Teriak semua yang ada di sana.
SELESAI
Komentar
Posting Komentar