Serat Sastra Jendra Hayuningrat
Di Kerajaan Alengka hidup seorang purti cantik yang bernama
Dewi Sukesi. Ia adalah putri Prabu Sumali. Dewi Sukesi adalah wanita dambaan
seribu satu Raja dan Ksatria, tak terkecuali Prabu Danapati. Raja Kerajaan
Lokapala, namun tak mudah untuk ia mendapatkan sang Dewi, karena ia harus
memenuhi dua syarat dari Prabu Sumali dan Dewi Sukesi. Sarat itu adalah
mengalkan adik Prabu Sumali yang seorang raksasa, yaitu Arya Jambumangli. Tak
hanya itu, ia juga harus menjabarkan makna dari ilmu "Serat Sastra Jendra
Hayuningrat". Syarat tersebut dirasakan terlalu berat oleh Prabu Danapati.
Maka ia meminta bantuan Begawan Wisrawa ayahnya. Begawan Wisrawa sangat giat
bertapa, itu membuatnya dikasihi para Dewa. Begawan Wisrawa bersedia memenuhi
syarat tersebut, melamar Dewi Sukesi untuk putranya.
Singkat cerita sang Begawan berhasil mengalahkan Arya
Jambumangli dan menjabarkan makna dari ilmu "Serat Sasrta Jendra
Hayuningrat". Begawan Wisrawa hendak memboyong Dewi Sukesi ke Kerajaan
Lokapala untuk dinikahkan dengan Prabu Danapati. Tetapi Dewi Sukesi tak mau,
karena dia hanya mau bersanding dengan orang yang telah berhasil memenuhi kedua
persyaratan itu. Dewi Sukesi memilih mati jika tak dapat bersama Begawan
Wisrawa. Ia telah bersumpah, jika Sang Dewi hanya mau menikah dengan orang yang
bisa mengalahkan pamanya, Arya Jambumangli dan menjabarkan "Serat Sastra
Jendra Hayuningrat".
Dewi Sukesi sangat mempesona, bahkan pesonanya meluluhkan
hati seorang pria yang berusia jauh di lebih tua darinya. Sifat seorang guru
dan murid diantara mereka pun hilang seketika, yang ada hanya sifat seorang
pria dan wanita. Hawa nafsu telah menguasai diri Begawan Wisrawa dan Dewi
Sukesi, berkobar dengan habat dan tak dapat dibendung. Jalin Asmara pun terjadi
di antara mereka. Tak lazim memang, namun itulah kenyataannya. Berita itu
terdengar oleh Prabu Danapati, ia sangat marah dan kecewa. Ia menghampiri
Begawan Wisrawa dan ingin membunuhnya. Pertarungan antara Prabu Danapati dan
Begawan Wisrawa pun terjadi, Prabu Danapati terus menyerang sang Begawan namun
Sang Begawan hanya menghindar, tak sedikitpun melawan. Ia menyesal karena telah
mengecewakan putra tunggal yang sangat ia sayangi.
Seketika turunlah Bathara Narada dari khayangan untuk
menghentikan pertarungan itu, dan meredam kemaraha Prabu Danapati. Bathara
Narada berhasil, Prabu Danapati mengakuli sesalahannya. Karena ia telah berdosa
kepada orang yang telah mengukir jiwa raganya. Ia pun sadar bahwa yang pantas
mendapaktan Dewi Sukesi bukanlah dirinya, tetapi Begawan Wisrawa. Untuk
menghargai kebesaran hati Prabu Danapati dan sebagi pengganti Dewi Sukesi,
Bethara Narada menghadiahkan tiga bidadari cantik untuknya.
Ketiga bidadari itu adalah Bethari Mayangsari, Bethari
Mayangmekah, dan Bethari Mayangsih. Sedangkan Begawan Wisrawa mendapatkan empat
buah cinta bersama Dewi Sukesi. Putra pertama adalah Prabu Rahwana, yang
nantinya akan membunuh Prabu Danapati sesuai dengan yang telah ditakdirkan para
Dewa. Dan juga seorang penguasa yang angkara murka, karena ia terlahir dari
nafsu yang membara. Putra Kedua adalah Kumbakarna, seorang raksasa yang berbudi
pakarti luhur. Ia tidak membela kakaknya, karena ia tahu jika kakanya telah
berbuat salah. Namun ia tetap maju ke medan perang demi membela negara yang ia
cinta.
Buah cinta Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi yang ketiga
adalah Sarpakenaka, seorang Raksasa perempuan yang sangat sakti, ia memiliki kuku yang berbisa ular dan
dapat berubah menjadi seorang wanita cantik. Sarpakenaka memiliki watak
congkak, ganas, bengis, angkara murka dan serakah, hampir sama dengan kakak
sulungnya. Sedangkan putra bungsu Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi adalah
Gunawan Wibisana, seorang kesatria tampan yang sangat berbudi luhur dan membela
keadilan serta kebenaran. Oleh sebab itu dia meninggalkan kakaknya Rahwana untuk
memihak Sri Rama karena melihat bahwa kakaknya salah, bertindak tidak adil dan
mau menang sendiri.
Komentar
Posting Komentar