Dari Simbat Hingga Smansa
Di siang yang cerah dan terasa panas itu,
siswa-siswi berbaju putih-biru saling bercengrama dengan kawan sepermainannya,
satu hal sederhanya yang mampu mengusir penat usai duduk
terdiam dan memutar otak untuk menyelesaikan puluhan soal. Pelaksanaan olimpiade yang terbilang bergengsi di kota kecil itu telah selasai di gelar, kini saatnya mereka menunggu hasil dari segala kerja keras. Terlihan jelas, ada kegelisahan di wajah-wajah belia yang masih cukup polos itu. Mereka menyimpan penuh harapan yang berdampingan dengan kecemasan. Batin bertanya, "apakah aku masuk 15 besar dalam mata pelajaran yang ku ikuti ?". Beruntung jika jawabnya "ya", karena mereka bisa bersekolah di SMA yang paling digemari di kota kecil yang ada di ujung timur Pulau Jawa.
terdiam dan memutar otak untuk menyelesaikan puluhan soal. Pelaksanaan olimpiade yang terbilang bergengsi di kota kecil itu telah selasai di gelar, kini saatnya mereka menunggu hasil dari segala kerja keras. Terlihan jelas, ada kegelisahan di wajah-wajah belia yang masih cukup polos itu. Mereka menyimpan penuh harapan yang berdampingan dengan kecemasan. Batin bertanya, "apakah aku masuk 15 besar dalam mata pelajaran yang ku ikuti ?". Beruntung jika jawabnya "ya", karena mereka bisa bersekolah di SMA yang paling digemari di kota kecil yang ada di ujung timur Pulau Jawa.
Sebuah
sekolah yang hanya untuk pelajar-pelajar pilihan, tak semua pelajar bisa
menimba ilmu di sekolah itu. Sebuat sekolah yang sarat akan persaingan. Di
antara keramaian, tampak seorang gadis berambut ikal sedang duduk bersandar di
sebuah pohon yang ternaman di sekolah yang megah nan luas. Beberapa saat,
setelah ia melihat seorang laki-laki yang sedang berjualan minuman, ingatannya
kembali ke masa yang telah lalu. Tiga tahun yang lalu, ia mengenal seorang
laki-laki yang telah menggoresi dunianya dengan berbagai warna. Masa indah dan
penuh kenangan itu, adalah masa yang mungkin takkan pernah terlupa selama ia
masih bernyawa.
*****
Hari itu adalah sebuah hari yang sangat indah, sang
fajar pancarkan sinarnya yang cerah dan hangat di ufuk timur. Hari itu adalah
saat yang dinanti-nanti olehnya, gadis desa yang masih memakai kemeja putih dan
rok berwarna merah. Ia menantikan datang hari itu, karena hari itu kan
mengenalkannya pada hal baru. Suatu hal yang selama ini belum pernal ia rasakan
saat masih mencari ilmu di desanya. Hari itu adalah masa orientasi siswa baru
di sebuah sekolah menengah pertama yang ada di daerah pinggiran, Kabupaten Reog
Kendhanang.
Kabupaten itu adalah kabupaten yang bertetangga dengan
kabupaten tempatnya tinggal. Meski masih memakai seragam lama, namun kini gadis
itu yang bukan lagi anak SD, ia telah bermetamorfosa menjadi pelajar SMP. Saat
sang fajar masih bersinar hangat, dua orang laki-laki masuk kedalam kelas yang
bertuliskan “Kelompok Kartini”. Senyuman manis menghias wajah mereka, tetapi
ada satu senyum yang lebih manis dan benar-benar manis.
“ Selamat pagi, dek. Selamat datang di SMP Simbat
dan selamat menjadi bagian dari sekolah ini. Nama kakak Candra Permadi, kalian
bisa panggil saya, Kak Permadi. Kakak kelas IX C, Jabatan kakak dalam OSIS
sebagai ketua ”, kata Kak Permadi memperkenalkan diri
“ Nama saya Abubakar Tomi, panggil aja Tomi. Saya
Pengurus Osis dengan Jabatan seksi olah raga. Saya kelas IX B ”, Kata Kak Tomi
dengan kaku
“ Dek kok diam aja? Ehmm, kita game aja ya ! ini
ada taplak meja. Nanti kakak lempar, terus yang kena maju ke depan buat nyanyi
ya ”, Kata Kak Permadi, menantang
“ Kita mau nyanyi, tapi kakak dulu yang nyanyi”,
Jawab Laras
“ Kamu mau kakak nyanyi lagu apa ? ”
“ Lalu – lagu dari Kahitna ”
“ Jangan lagu dari Kahitna dong dek, yang lain aja
ya ”, Pinta Kak Permadi
“ Kenapa kak, gak bisa ya? ”
“ iya, kamu bener banget ”
“ Kahitna? norak banget !!! ”, Kata Kak Tomi,
sinis.
“ Tom jangan bilang gitu, jaga perasaan orang lain
dong. Udah dik gak usah denger kata-kata kak Tomi tadi ”
Laras tak menjawab. Gadis itu kesal pada Tomi
karena telah menghina grup musik yang sangat ia gemari. Dan terpesona pada
Permadi yang sangat ramah dan baik hati. Bel istirahat berbunyi. Permadi
mengucapkan salam dan keluar, lalu diikuti dengan anak yang lain. Laras belum
beranjak dari tempat duduknya, ia terdiam sambil melamul“ Wah, kak Permadi
ganteng banget. Manis lagi, dia juga ramah dan baik. Andai saja,,,,,” 15 menit
waktu istirahat telah selesai, semua masuk ke ruang agenda MOS selanjutnya,
yakni Tes Kecerdasan. Laras menempati kelompok 13.
Tes dimulai, lembaran soal beserta lembar jawaban
di bagikan. Laras mengerjakan soal demi soal itu, awalnya ia dapat mengerjakan soal-soal
dengan tenang. Namun tak demikian, saat Permadi memasuki ruangan 13. Laras
menjadi salah tingkah, ia tidak bisa mengerjakan soal dengan tenang.
“Duh,,,,,, Kak Permadi ganteng banget sih. Kira-kira dia udah punya pacar apa
belum ya ???. Kalau belum mau donk jadi pacarnya.”, Kata Laras dalam hati.
Entah sekedar kagum atau karena apa, sehingga kalimat itu terlintas di
benaknya. Jika karena ia asmasa, bukankah terlalu dini, gadis seusianya
mengenal asmara. Namun tak ada yang tak mungkin, semua hal bisa terjadi
karena kuasa Sang Pencipta Jagat Raya.
“Udah selasai dik ???”, Tanya Permadi
“Belum kak !!!!”, Jawab semua anak.
“ Kurang 10 menit lagi ”, kata Salah seorang yang
mengawasi tes itu
“ Iya kak,,,,”, Jawab semua anak
“Apa ??? Kurang 10 menit??!! Banyak yang belum aku
kerjakan. Asal-asalan aja deh,,,, ” Pikir Laras
Setelah segala kegiatan yang cukup melelahkan bagi
pelajar yang baru beradaptasi hari itu selesai, mereka pulang. Bandul jam terus
bergerak hingga sinar anggun di ufuk timur kembali menyapa bumi, usai terlelap
dengan cantik kala petang. Semua peserta MOS berkumpul di aula untuk
mendapatkan penjelasan mengenai pengembangan diri di SMP Simbat. Selelah itu
masuk di kelompok masing untuk pembagian Angket Pengembangan Diri
“Kak Permadi kan ikut KIR, aku juga mau ikut
ah,,,,,” Kata Laras sambil mengisi angket pengenbangan diri dengan sangat
bersemangat. Meskipun sebenarnya, ia tak terlalu memahami seperti apa
pengembangan diri KIR itu.“ Sudah ngisinya dik ? Kalau sudah silahkan di
kumpulkan ya ” Kata seorang senior yang membuat hampir semua murit baru yang
ada di kelas itu berdiri dari tempat duduknya.
“ Ow ya dik. Besok ada penutupan MOS. Tolong
siapkan satu penampilan untuk pensi, buat yell-yell kelompok ya dik ”
“ Iya kak ”, Kata pesesta MOS
Saat penutupan MOS telah tiba. Pensi akan segera
dimulai, tapi Kelompok Kartini belum memiliki persiapan apa pun. Ribut-ribut
kecil menambah ramai suasana di aula.
“ Biar Laras aja yang tampil ”, Kata Irfan
“ Iya Ras kamu aja ”, Tambah Sesil
“ Kok aku ??? ”
“ Kelihatanya kamu tenang, harusnya ada persiapan
dong ”, Kata Irfan
“ Ok, kita tampilkan sebuah drama pendek ya ”
“ Jangan, kayaknya terlalu lebay ”, Kata Sesil
“Kamu nggak setuju ? Kalau kamu nggak setuju, kamu
yang harus mewakili Kelompok Kartini untuk Tampil !!!” Kata Laras dengan nada
sangat tinggi, yang tak bisa terbantahkan oleh teman-temannya. Sejak kecil
gadis itu memang dibesarkan di keluarga yang keras, yang mungkin saja tergolong
otoriter. Wajarlah jika ia menjadi seorang gadis yang keras kepala. Karena ia
sudah tersugerti dengan kalimat yeng berulang kali terdengar di telinganya
"Kamu harus, dengankan kata ayah dan turuti mau ayah !!!" Bagi Laras,
teman-temannya harus selalu mendengarkan ucapannya dan menuruti kemauannya,
karena ingin segala sesuatu bisa berjalan dengan rapi. Itu memang bukan lah
yang baik, tapi setidaknya bisa berguna untuk Pensi yang saat itu sudah dimulai
dan tiba saatnya untuk kelompok Kartini.
“Ya, itu tadi penampilan dari Laras dan Linlin.
Sebuah drama dengan judul Bawang Merah dan Bawang Putih. Mereka sangat kreatif,
karena durasinya kurang dari 1 menit” Kata Kak Rindan, wakil ketua OSIS di
sekolah itu. Setelah semua kelompok mementaskan penampilan mereka, saatnya
mengumuman tiga penampilan terbaik di siang itu. Kelompok Kartini mendapatkan
peringkat ke-3 dan Kak Permadi mengalungkan rangkaian bunga melati di lehernya. Semerbak wangi bunga melati selaras
dengan hati Laras yang kini berbunga-bunga. “ Kamu suka sama kak Permadi kan ??? ” Tanya Bima “ Kalau iya kenapa ??? ”, Kata Laras
“ Aku punya nomer telponya lho ”
“ Kamu serius !!! Aku minta dong Bim ”
“ Ow tidak bisa. Bayar dulu ”
“ Berapa ??? ”
“ 10 ribu aja ”
“ Ok. Aku mau ”
“ Ras, Kak Pemadi itu pacarnya Kak Dinastari lho ”,
Kata Sesil, teman sebangkunya
“ Biarin aja. Aku nggak perduli ”, Kata Laras
“ Kamu bisa di labrak sama Kak Dinastari dan teman-temannya ”
“ Nggak takut ”
Malam itu Laras mengirim pesan singkat untuk
Pemadi, laki-laki yang telah membuatnya selalu berbunga-bunga saat berjumpa dan
membuat nadinya tak pernah berdenyut lembut saat berada di depan mata. “Selamat
malam Kak” Isi pesan singkat Laras yang membuka percakatan mereka berdua.“
Malam, kamu siapa ? ” Balas Kak Permadi dengan penasaran. “ Aku Dewi Larasati kak. Anak kelas VII – I ”, Jawab Laras
“ Ada apa dik ? ”
“ KIR itu waktunya kapan ya kak ? ”
“ KIR waktunya gak tentu dik. Kamu mau ikut KIR ? ”
“ Iya kak ”
“ Kalau gitu semoga lolos seleksi ya dik ”
“ Makasih ya kak ”
Di hari itu setelah bel pulang berbunyi, Cicis dan
Laras tak langsung pulang. Mereka akan mengikuti seleksi peserta KIR. Cicis dan
Laras berada di ruang kelas yang berbeda. Laras berhasil menyelesaikan
pekarjaannya dengan cepat dan tepat. Meski telah selesai, ia tak langsung
meninggalkan sekolah. Laras menunggu Cicis di luar. Saat sedang menunggu kawan
baiknya, seorang gadis cantik datang menghampirinya. “ Tadi bisa mengerjakan
dik ?”, Tanya gadis cantik itu dengan sorot mata yang tajam untuk Laras. Entah
mengapa si gadis cantik memberikan tatapan seperti itu pada adik kelasnya.
Apakah Laras telah berbuat salah? Sepertinya ia dan Tuhan saja yang tahu
alasannya. “ Iya kak ” Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Laras. “ Nama kamu siapa ? ”, Tanya Kakak cantik itu lagi
“ Laras kak ”
“ Kelas ? ”
“ VII I ”
“ Kenapa ikut KIR ? ”
“ Sepertinya menarik kak ”
“ Apa yang membuat kamu tertarik ? ”
“ Saya suka biologi ”
“ Jawaban yang nggak nyambung ”
Setelah beberapa saat, Cicis keluar. Lalu mereka
pergi bersama.
“ Cis, kakak yang tadi ngobrol sama aku siapa sih ?
”
“ Itu kak Dinastari ”
“ Pacarnya Kak Permadi ??? ”
“ Yups ”
“ Cantik sih, tapi kok nyeremin gitu ya ??? ”
“ Kayaknya dia udah tahu deh, kalau kamu suka sama
Kak. Jadi hati-hati aja ”
“ Aduh… mati aku ”
“ Salah kamu sendiri, siapa suruh suka sama Kak
Permadi ”
“ Percaya nggak sih ??? Yang nyuruh hatiku ”
Persami telah tiba, serangkaian acara yang
menyenangkan akan diadakan. Sore itu, beberapa anak tetap di ruang istirahat
dan tidak mengikuti sholat magrib berjamaah. Para mengusur OSIS datang untuk
memeriksa semua ruang istirahat. “ Kenapa nggak ke lapangan basket ? ”,
Tanya Kak Permadi
“ Kita, lagi halangan kak ”, Jawab Laras
“ Ya sudah kalau gitu, tapi setelah sholat selesai
kalian ke sana ya ”
“ Iya kak ”
“ Kak, di sini ada yang ngefans lho ”, Kata Galuh
“Sampaikan salamku ke dia ya” Dengan perlahan
melangkah menjauh, Permadi mengatakan seuntai kalimat sederhanya yang membuat
perasaan Laras semakin menggelora. Dan di hari selanjutnya, cerita gadis yang
tengah kasmaran itu masih berlanjut. Laras dan kawan-kawannya menjelajah
lingkungan sekitar sekolah. Saat regu Putri 12 sampai di pos terakhir. Di
tempat itu ada Permadi yang tampak asik berbincang-bincang dengan seorang
alumni SMP Simbat.
“ Teman-teman, aku pusing ”, Kata
Laras
“ Kak, Laras sakit ”, Vigi memanggil Kakak Wahyu
“ Aduh nggak sesuai rencana nih. Kalau gini untuk
apa aku pura-pura sakit ”, Kata Laras dalam hatinya
“ Ayo dik ikut kakak ”
“ Nggak usah kak. Aku masih kuat ”
“ Jangan, nanti sakit kamu tambah parah lho ”
“ Iya deh kak ”, Laras terpaksa
Beribu-ribu cara yang Laras lakukan agar dirinya
bisa selalu dekat dengan Permadi, membuat namanya terdengar sampai seluruh
sudut sekolah. Nama Dewi Larasati kuncara sebagai seorang gadis yang sangat
terobsesi dengan ketua OSIS SMP Simbat, yaitu Candra Permadi. Bahkan para guru
pun tahu tentang itu.
“ Kamu Laras ya ? ”, Tanya pak Abdul
“ Ini pak ”
“ Yang katanya suka dengan Permadi itu ? ”
“ Eeee,,, tidak pak ”, Laras menjadi salah tingkah
“ Masak ??? Bohong ya ??? ”
“ Pak, saya permisi ”, Laras menghindar
Saat sampai di kelasnya, ia sempat spot jantung
karena kabar yang disampaikan oleh temannya. “Ras, tadi kak Dinastari ke sini
nyari kamu” Kata temannya sambil menatap Laras. “Untuk apa ??? ” Tanya Laras
dengan nada gemetar karena perasaan takut dan gelisah, padalah gadis itu tak
pernah merasa seperti itu sebelumnya. Mungkin karena ia merasa jika dirinya ada
di posisi yang salah.
“ Aku nggak tahu. Kamu mau di labrak,
mungkin ”, Kata Cicis dengan santai “ Di labrak ??? ”, Latas tampak Gugup
“ Iya, karena kamu suka sama Kak Permadi ”
“ Terus aku harus gimana dong ??? ”
“ Bukankah kamu berani sama Kak Dinastari ”
“ Iya, tapi waktu itu. Sekarang udah enggak ”
“ Tenang aja. Kak Dinastari itu baik, dia
nggak mungkin ngelabrak kamu ”
“ Kamu yakin ??? ”
“ Yakin banget. Walaupun kelihatannya galak,
kenyataannya enggak kok ”
“ Syukurlah kalau gitu ”
“ Nyadar dong Ras, Kak Permadi itu pacarnya Kak
Dinastari. Jadi kamu jangan suka sama dia ”
“ Kalau untuk hl itu aku nggak janji lho ya ”
“ Ya Alloh, semoga Laras di labrak kakak kelas ”
“ Kok doa mu ke aku jelek banget sih ??? ”
“ Biar kamu sadar ”
Meski
waktu terus berjalan, Laras tak pernah berhenti mengganggu Permadi. Ia selalu
berharap bisa mendapatkan sedikit perhatian laki-laki bersenyum manis itu.
Namun harapanya hanya selalu menjadi sebuah harapan. Dan hingga tiba saatnya,
Permadi melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Permadi murid yang
cerdas, ia berhasil terdaftar sebagai siswa di sekolah yang populer. Saat ia
mulai merasa betapa tak menarik lagi sekolah itu tanpa adanya Permadi di sana,
Laras bertekat untuk bisa melanjutkan ke sekolah yang sama dengan laki-laki
yang selalu dikaguminya. “Aku pasti bisa menyusulnya” Ikrar Laras, dengan
iringan semangat yang berkobar.
*****
Tiba-tiba lamunan Gadis belia itu buyar saat
kawan-kawan dekat menghampirinya dengan berjuta hiruk-pikuk histeria yang
nyaring terdengar di telinga. Berjuta histeria itu telah memecah keheningannya
dengan seketika, yang sedari tadi sedang duduk berteman sepi. “Selamat ya,,,
kamu peringkat 3 Ras. Takkan lama lagi ini akan menjadi sekolahmu.
Congratulation” Kata Luvia salah satu kawan baiknya sambil memberikan pelukan
hangat tanda persahabatan.
“ Selamat ya Ras, cihe yang udah dapat sekolahan,,,
”, Kata Titis
“ Ku ucapkan selamat untukmu kawan ”, Kata Lian
“ Makasih ya teman-teman ”
Tak seorang pun yang percaya akan pencapaian yang
saat ini berhasil Laras raih. Karena yang banyak orang tahu, Laras hanya gadis
dengan kecerdasan yang pas-pasan. Namun kenyataan berkata lain, gadis periang
yang juga keras kepala itu benar-benar berhasil meraih hal itu. Bahkan tak
hanya sekeder bersekolah di SMA dambaannya dan sbagian besar siswa di kota itu,
predikat juara pun melekat padanya. Laras menang bukan anak yang istimewa
karena kecerdasanya, namun ceritanya telah membukakan mata yang mungkin masih
tertutup. Melihat kenyataan bahwa siapa saja bisa menjadi pemenang, tanpa perlu
menjadi istimewa. Karena yang diperlukan adalah sebuah tekat.
“ Kak Permadi, aku pasti akan sekolah di sini ”,
Kata Laras di hadapan Permadi
“ Sayang, maaf ya. Sepertinya tahun depan aku akan
pindah sekolah ”, Katanya pada seorang gadis berjilbab yang tengah berdiri di
sampinnya.
Itulah cerita seoarang gadis yang dapat meraih
sesuatu yang membanggakan, karena termotivasi oleh laki-laki dambaan hatinya.
Mungkin kalian setuju dengan pengdapatku, jika motivasi bisa siapa dan apa
saja. Karena untuk mencapai lah yang diinginkan seseorang memiliki motivasi
yang berbeda-beda. Selamat Dewi Larasati sahabatku. Oh ya,,, mungkin dalam
dalam benak kalian ada sebuah tanda Tanya, tentang siapakah aku yang
sebenarnnya. Aku yang sebenarnya tak penting untuk kalian tahun. Yang penting
kalian bisa mengambil hikmah dari sebuah cerita yang kuceritakan. Salam Sastra
& Salam Budaya
Komentar
Posting Komentar