31 Tak Terlupa
Memang
semua hari yang telah Tuhan ciptakan itu indah, namun tak semuanya istimewa.
Karena istimewa atau tidak suatu hal, hanya hati yang bisa menjawab. 31 Agustus
adalah hari yang indah nan istimewa untukku, hari ini adalah hari jadi kota ku.
Kota kecil di ujung timur yang ada di tepi Samudra Hindia, Kota Tenggalek
namanya. Ketika aku kecil, Ayah selalu mengajakku untuk melihat pesta kembang
api yang ada di jantung kota. Aku sangat senang, karena tak pernah ada perayaan
semegah itu di desaku. Dan hingga detik ini, tanggal 31 Agustus selalu menjadi
saat yang ku nanti - nanti. Walaupun kini, aku tak bisa melihat indahnya
kembang api di langit Trenggalek bersama pria yang mengukir jiwa ragaku, 31
tetap indah.
Ini
Hari Minggu di akhir Bulan Agustus, aku dan teman-teman mendapat tugas untuk
melihat prosesi Kibab Budaya di Pendhopo Manggala Praja Nugraha. Tak seperti
Hari Minggu biasanya, hari ini aku bangun pagi dan mandi. Karena aku harus
pergi ke pusat kota Trenggalek, jarak desaku dan pusat Kota Trenggalek cukup
jauh. Aku berangkat bersama teman sekelasku yang tinggal di desa sebelah.
Setelah semua siap aku berbergegas untuk berangkat ke rumah temanku. Tentunya
aku berpamitan sebelum berangkat, ku hampiri Ayah yang tengah duduk menikmati
sayup - sayup sinar mentari pagi di kursi roda miliknya.
“ Kamu
nanti lihat sama siapa ? ”, Tanya Ayah padaku
“ Nggak
tahu Yah, mungkin nanti malam aku tak melihat ”
“ Tak
mungkin, Ayah hafal kamu betul. Pesan ayah, hati - hati ya nak ”
Aku
hanya mengangguk, lalu ku jabat tangat ayah dan ucupkan salam. Bodoh memang
jika aku masih berkata bohong seperti itu pada orang yang telah hidup denganku
selama 17 tahun. Tak mungkin ia percaya, karena telah berkali ku ucapkan dan
berkali pula yang sesunggulnya terbongkar. Yah,,, wajar memang jika Ayah tahu
jika aku hanya beralasan, karena ia benar - benar sudah hafal, jika aku tak
akan pernah rela melewatkan 31 Agustus. Apalagi di hari itu ada pagelaran seni
pertunjukan yang menurut pandangan mataku terbaik di dunia. Setelah beberapa
saat menunggu, akhirnya sebuah angkutan umum berhenti di hadapanku.
*****
Sungguh
hari yang melelahkan, namun sedikitpun takkan mengurangi semangatku ini. Karena
ku yakin malam nanti sangatlah indah, dan akan menjadi satu dari sekian
banyaknya kenangan dalam hidup yang telah Tuhan anugrahkan untukku. Usai
melihat prosesi kirab dan mencatat hal-hal yang ku rasa penting, kaki ini
bergegas mengayun sepeda ditemani panas mentari menuju salah satu rumah kawanku
yang tak jauh dari lokasi Kirab Budaya. Inilah konsekuensi bersekolah di sebuah
sekolah yang terkenal unggul di bidang akademi. Hari libur pun harus meluangkan
waktu untuk mengerjakan tugas yang bisa dibilang tidak sedikit jumlahnya. Tak
terasa sang surya telah menghilang di ufuk barat, pertanda telah lama aku
menghabiskan waktu bersama kawan-kawan berteman banyaknya tugas.
“ Guys,,, ini udah
selesai kan ??? ”, Tanyaku
“ Udah,
tinggal buat laporan ”, Jawab Pras
“ Itu
yang mbuat Juwita kan ??? ” Imbuh ku
“ Iya
biar aku yang buat ”
“ Oh,,,
kalau gitu akau balik ya guys ”
“ Loe
nggak pengen ikut kita ke kedainya Pras ” Tanya Resti
“
Enggak Res,,, makasih gue harus cepat pulang ke kost ”
“
Tumben, biasanya loe paling males pulang cepet ??? ”
“ Malam
ini, adalah malam yang luar biasa indah yang tak boleh terlewatkan”
Itulah
kalimat yang terakhir ku ucakan pada kawan-kawanku sebelum aku mengayuh
sepedaku dan kembali ke rumah kost yang sudah ku anggap sebagai rumahku
sendiri. Ku parkir sepeda di halaman, segera ku letakkan tasku di kamar dan aku
menarik sebuah handuk yang berada di gantungan lalu masuk ke kamar mandi. Usai
segera ku berbenah diri. Ku kenakan sebuah kaos komunitas berwarna hitam dan
jaket tebal berwarna merah. Sebelum berangkat tak lupa ku mengambil tas putih
kesayangan pemberian ibu, dan berpamitan.
“ Nggak
makan dulu ??? ”, Kata ibu kostku
“ Nggak
usah Mak Yen ”
“ Nanti
pulang jam berapa ”
“ Pagi
!!!! ” Teriakku dari halaman rumah
Entah
mengapa ini bisa terjadi, ketika hendak berangkat tiba-tiba pegangan tas
milikku terputus. Padalah aku yakin benar, jika tas ini masih sangat bagus dan
seharusnya pegangannya tidak terputus secara tiba-tiba seperti ini, namun
sudahlah. Setelah mengambil tas pengganti ku kayuh sepeda lebih cepat dari
biasanya, jalanan malam itu sangat ramai. Bahkan jalan yang seharusnya bisa ku
lewati pun ditutup. Walau harus melewati jalan yang lebih jauh, tak sedikitpun
mengurungkan keinginan hati untuk pergi ke tempat itu. Agar bisa menikmati
indah suasana dan berjumpa dengan seseorang yang istimewa. Setelah memarkirkan
sepeda di halaman rumah dinas Ayah, aku berjalan melewati keramainan tuk dapat
bertemu dengannya.
“ Kakak
Ditya,,,, ” Sapaku
“
Fahmy,,,, kamu apa kabar manis ??? ”
“ Aku
baik kok kak, sangat baik. Apalagi ini malam yang istimewa ”
“
Istimewa ???? Kenapa istimewa ???? ”
“ Perlu
ya di jawab??? Bukankah kakak sudah tahu jawabnya ???? ”
“
Karena acaranya atau karena orangnya ???? ”
“
Eeee,,,, ” Mulut ini sulit tuk menjawab
“ Ayo
jawab ” Kata Kak Ditya sambil menggoda
“ Apa sih Kak ”
" Dik,,,, lihat itu mas Arya. Lihat tuh, senyumnya manis banget"
" Udah dong Kak,,,, jangan di terusin "
" Ok deh "
" Dik,,,, lihat itu mas Arya. Lihat tuh, senyumnya manis banget"
" Udah dong Kak,,,, jangan di terusin "
" Ok deh "
Malam
ini tak sekedar indah dan istimewa. Lebih dari itu semua, bahkan tak bisa
diungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti malam ini sangat menyenangkan,
bercengkrama dengan teman-teman komunitasku ramah dan baik hati, melihat indah
kembang api di langit Trenggaalek dan menikmati pagelaran wayang kulit Ki
Tanjung Anom dan Ki Prasetya Aji, dalang yang sangat ku gemari. Banyak yang
bilang, langka gadis seusiaku suka dengan wayang kulit. Namun inilah adanaya,
aku menang suka dengan pentas wayang kulit. Rasanya sangat menyenangkan bisa
meniktmati pentas ini. Mendengarkan indah suara gamelan dan halus tutur bahasa,
melihat setiap gerakan-gerakan wayang yang lincah membuatku sangat bersyukur
atas anugrah-Nya. Hidup menang indah dan penuh anugrah, namuan hidup juga
perjuangan.
Di
sela-sela bercengkrama dengan kawan-kawan komunitas, ku lihat ponsel milikku.
Rasanya tak percaya dengan hal yang baru ku tahu tentang kenyataannya. Kak
Vivia, kakak kelasku yang sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri lelah tiada,
tepat di tanggal 31 Agustus. Mungkinkah putusnya tali pegangan tas adalah
pertanda ??? Kini aku ingin tas itu pernah jadi bantal saat Kak Vivia tidur di
masjid sekolah. 31 Agustus sebuah tanggal yang selalu ku rasa sebagai tanggal
terindah, terbaik dan istimewa. Aku tak tahu apakah hari ini harus ku bersuka
cita dengan segala anugrah Sang Maha Kuasa ataukah bersedih karena hurus
kelihangan sesorang kakak yang istimewa. Rasa 31 Agustus yang selama ini ku
rasa mempurnya telah benar-benar menjadi cacat. Aku menangis, aku berteriak,
aku tak mau menerima kenyataan ini.
“
Sudahlah dik,,, ikhlaskan dia. Ini telah menjadi takdir Tuhan ”, Kata Kak Ditya
“ Tapi
kak,,, Kak Vivia itu sangat baik sembalas 1 kebaikannya saja aku belum bisa.
Kenapa dia harus pergi secepat ini ??? Aku masih ingin membalas kebaikannya”
“ Kamu
bisa membalas kebaikannya melalui doa dan keikhlasan dik. Kasihan kakak kelasmu
itu jika kamu terus-terusan seperti ini. Ini semua telah tergaris dik. Mau
tidak mau kamu harus terima. Kalau kamu seperti ini, itu berarti kamu
membangkang pada Tuhan ”
“
Yah,,, Kakak benar. Tak ada gunanya semua ini. Tapi kenapa harus di tanggal 31
Agustus ??? Hari terbaik bagiku”
“
Bukankan kamu tahu jika Mati, Jodoh, dan Rezeki sudah tuhan takdirkan ”
Walaupun
sulit menerima kenyataan ini, perlahan ku berusaha untuk menerima. Karena aku
tak mau menjadi seorang hamba yang membangkang pada Tuhannya. Dan mala mini
tetap indah dengan segala kurang dan lebihnya. 31 Agustus tetap menjadi 31
Agustus yang indah dan istimewa. Dan di tanggal ini pula, aku mendapatkan
banyak hal berharga yang mungkin saja takkan bisa ku dapatkan jika aku
tak berada di tempat ini, malam ini. Kini dengan hati yang lapang ku ucapakan
selamat jalan kakakku tercinta, Vivia Ayu Sukma. “ Semoga kakak tenang di dunia
kakak yang baru, di dunia yang abadi ” Semoga doa kecil dariku bisa membalas
semua kebaikan yang telah kakak berikan padaku.
Komentar
Posting Komentar