Karena 1 PM
Terasa
kental hiruk pikuk di sebuah ruangan yang sangat luas itu. Remaja-remaja yang
tengah mekar bak sebuah mawar berkumpul, bencengkrama dan bersenda gurau dengan
kawan-
kawan mereka. Dengan kawan terbaik, kawan dekat atau bahkan, hanya sekedar kawan biasa. Meski mereka berasal dari berbagi latar belakang yang berbeda, namun semua insan yang ada di ruang tak terpisahkan oleh kasta. Semuanya membaur, berpadu menjadi satu. Itulah suasana yang ada saat seorang gadis belia di sekolah menengah akhir menginjakan kakinya di sana, sekedar bergabung dengan yang lain untuk melihat sebuah peragaan busana. Gadis itu langsung duduk di samping seorang gadis yang tampaknya tak asing lagi baginya. "Mbak Ilma,,," Sapa gadis yang sedari tadi duduk kepada orang yang baru saja menghampirinya. "Hai Cha,,,", balas gadis itu. "Darimana mbak, kok baru datang???", Tanya Chacha. "Tadi aku baru rapat buat yearsbook".
kawan mereka. Dengan kawan terbaik, kawan dekat atau bahkan, hanya sekedar kawan biasa. Meski mereka berasal dari berbagi latar belakang yang berbeda, namun semua insan yang ada di ruang tak terpisahkan oleh kasta. Semuanya membaur, berpadu menjadi satu. Itulah suasana yang ada saat seorang gadis belia di sekolah menengah akhir menginjakan kakinya di sana, sekedar bergabung dengan yang lain untuk melihat sebuah peragaan busana. Gadis itu langsung duduk di samping seorang gadis yang tampaknya tak asing lagi baginya. "Mbak Ilma,,," Sapa gadis yang sedari tadi duduk kepada orang yang baru saja menghampirinya. "Hai Cha,,,", balas gadis itu. "Darimana mbak, kok baru datang???", Tanya Chacha. "Tadi aku baru rapat buat yearsbook".
Chacha
menepuk pundak Ilma, seolah ada sebuah tanda tanya besar dalam
otaknya, tapi gadis muda itu ragu tuk bertanya. "Lho kenapa Cha??? "
Tanya Ilma pada adik kelasnya. "Mbak Ilma jawab jujur ya,,,", Pinta
Chacha. "Okey,,," "Janji,,,,", Chacha mengacungkan jadi
kelingkingnya pada Ilma. "Aku janji", kata Ilma sambil melilitkan
jari kelingkingnya di jari Chacha. "Personal message kamu kemarin buat
siapa mbak???" "Person Message??? Personal message yang mana
Cha???" "Yah ampun mbak,,, yang kemarin itu lho" Ilma berusaha
menggingat segala sesuatu yang kemarin sempat ia tulis di akun BBM pribadinya.
"Kayaknya aku gonta-ganti PM deh", Kata Ilma. Chacha pun langsung
menunjukkan sebuah hasil capture yang ada di galeri ponselnya. "Eh,,,
bukanya kamu nggak punya BBM ya,,, tahu PM aku dari mana???" "Udah,,,
jawab aja dulu, buat siapa???" "Coba tebak, buat siapa", Kata
Ilma dengan senyum penuh misteri yang membuat Chacha semakin penasaran
"Kalau nggak buat Redy yang buat Jafar" Tebak chacha.
"Salah.
Yang benar buat Vigo" "Hah,,, Vigo??? Siapa Vigo???". Ilma
mengacak-acak rambut Chacha yang tergerai sebahu "Dasar anak kepo, Vigo
itu teman sekelas aku. Btw,,, tahu PM aku dari mana sih???" "Dari
Upy,,, kemarin dia penasaran abis baca PM mu, trus di capture deh"
"Terus kok bisa di kira Redy kalau nggak Jafar???" Tanya Ilma penasaran.
"Yang nggira Redy itu Upy, soalnya kan dia kemarin main basket trus pakai
kacamata, dia juga jago main gitar lho" Chacha menjelaskan. "Kalau
Jafar???", Tanya Ilma lagi "Ya kan kemarin, dia basketnya juga pakai
kacamata. Dan,,, kamu kan pernah ditebengi pas pulang kampun Mbak. Jadi aku
pikir,,, yang kamu maksud Jafar". "Dan ternyata kamu sama Upy
SALAH,,,," "Ngapain bikin PM buat Mas itu sih Mbak???", Tanya
Chacha. "Karena,,dia itu udah pinter, jago main gitar trus bisa main
basket dengan baik walaupun berkacamat. Kemarin tim C kan juara 1, ya walaupun
teman aku itu nggak menonjol banget, tapi dia tim inti dan sumbangsihnya besar,
dia juga ngasih kesempatan orang lain"
"Suka
sama Mas itu???" "Suka lah,,, siapa sih yang nggak suka sama orang
kayak dia. Cool, smart, talented, humble lagi. Dia anaknya cuek tapi care sama
teman yang butuh bantuan. Aku cuma suka aja, anaknya baik. Nggak ada hasrat
untuk memiliki" "Oh gitu ya,,, " "Yups" "Wah,,,
padahal aku kemarin udah taruhan lho sana Upy" "Taruhan??? Kurang
ajar banget kalian anak kecil. Kakak kelasnya jadi bahan taruhan" "Hehehe
sorry Mbak", Kata Chacha dengan tawa cengingisannya. "Gilak ya,,,, gara-gara PM aku di kira suka
sama brondong, jadi bahan taruhan lagi", Kata Ilma yang tengah kesal.
"Tapi mereka brondong manis kan mbak", Goda Chacha "Manis??? Iya
juga sih. Dua anak itu masih manis. Tapi badannya nggak menggoda.
Hehehehe", Canda Ilma "Asataga mbak,,,, jangan otak mesum dong",
Chacha menggeleng-geleng kepala "Ih,,, apaan sih, aku bukannya otak mesum.
Tapi penuh intergitas, dari pada munfik. Sebagai wanita normal aku suka tergoda
sama cowok yang badannya kayak Arif gitu. Ulala,,,,", Bantah Gadis itu.
"Kalau buat kamu, dia brondong juga kali Mbak",
kata Chacha "Emang,,, brondong macho tapi hahahha". Gelak tawa mereka
semakin menambah suasana meriah yang memenuhi ruangan megah itu. Di sudut
keramain tampak pria kalem yang sedari tapi Ilma dan Chacha bicarakan. Pria
kalem seperti Vigo pun tak luput menikmati kemeriahan peragaan busana hasil
karya putra-putri SMA itu, ia tampak asik berbincang-bincang dengan
teman-temannya. Sepertinya memang tepat
yang Ilma katakan, tak seorang pun tak menyukai orang seperti Vigo, kerena
kebaikan membuat banyak orang menjadi senang pada dirinya. Jikapun ada orang
yang tidak suka pada laki-laki itu, mungkin dia adalah orang yang iri hati.
Tidak suka jika ada orang yang mendapatkan karunia dari Ilahi. Kita memang
bukan Vigo, dan tak perlu menjadi Vigo. Tapi tak ada salahnya jika kita
meneladani sifat dan sikap baiknya dalam bersosiasilasi dengan teman-teman
kita. Percaya deh,,,, kalau jadi orang baik itu enak. Jangan kalian terlalu percaya dengan
sinetron yang katanya "Orang baik selalu menderita"
Komentar
Posting Komentar